Keindahan Tidak Tersembunyi Tangkahan

on

Perjalanan ke Tangkahan (1)

Bus yang kami tumpangi disalip mobil jenis pick-up dengan kecepatan tinggi. Jalan bercampur tanah dan batu di tengah hujan gerimis tak membuat si supir mengurangi kecepatan. Kami memang sudah lewat dari jadwal ketibaan. Matahari sebentar lagi tenggelam, tapi si supir kami masih belum yakin betul dengan rute yang dipilihnya.

 

Sekitar dua kilometer melaju, pick-up tadi berhenti di pinggir jalan dekat persimpangan. Dua orang berdiri di depan mobil. Mereka memberi salam, tapi lebih tepatnya meminta kami berhenti. Obrolan antara supir dan dua orang itu terdengar sangat jelas, khas obrolan orang-orang Medan. Mereka orang perkebunan dan melarang kami lewat rute yang hendak dilalui sang supir. Ini memang rute tak biasa, tapi dipilih karena kondisi rute utama sangat buruk akibat hujan beberapa hari terakhir.

 

Kendaraan jenis city bus yang kami tumpangi beberapa kali memutar balik. Saat melaju pun tak mulus karena beberapa kali berhenti ketika supir melihat genangan, mengeceknya, lalu melanjutkan perjalanan. Beberapa kilometer berhenti lagi. Petang semakin padat, tanaman sawit yang berada di setiap sisi semakin menggelap.

Beginilah perjuangan menuju Tangkahan di akhir tahun, atau di awal musim hujan. Tangkahan adalah kawasan hijau di Sumatera Utara yang luasnya ribuan hektar. Media-media menyebut Tangkahan sebagai ‘keindahan tersembunyi di Sumatera Utara,’ atau ‘hidden paradise’. Tidak sepenuhnya benar-benar ‘hidden’ karena Tangkahan bisa dijangkau 4-5 jam dari Bandara Internasional Kuala Namu. Selama perjalanan sama sekali tidak merasakan sesuatu yang belum terjamah. Kami melewati banyak kampung kecil, dan tak pernah kehilangan pandangan dari kendaraan bermotor. Tangkahan memang indah, tapi sudah pasti tidak tersembunyi.

 

Media lain menyebut Tangkahan sebagai ekowisata. Ini juga bisa didebat. Salah satu syarat ekowisata atau wisata lingkungan adalah pertanggung jawaban pengunjung dan penduduk di sekitar kawasan tersebut. Ini sama sekali tak terlihat. Tapi itu masalah lain karena di banyak tempat ekowisata hampir selalu gagal memenuhi janjinya.

 

Perkebunan sawit mengepung kawasan Tangkahan. Tanah Deli yang menjadi rumah Tangkahan cocok untuk tanaman sawit. Tebalnya pohon sawit mempertegas cengkeramannya atas wilayah ini.

 

Soal sawit ada anekdot dari supir bis kami. Sang supir sepertinya sering mengantar turis ke sini, termasuk turis asing dari Eropa. Dia mulai bercerita sesaat setelah bis keluar dari kemacetan. Mungkin si supir girang karena menemukan jalan memotong.

 

Ini cerita si supir. Suatu kali dia mengantar turis asal Eropa ke Tangkahan. Melihat begitu banyak pohon sawit, si turis ngomel-ngomel. Ini merusak tanah, menyerap air tanah. Inilah, itulah. Pokoknya tidak ada yang benar di mata si turis. Supir kami ini rupanya tak mau kalah. Dia balik ngomel, “Lha, yang bawa sawit ke sini kan nenek moyang kalian. Di Indonesia dulu tidak ada tanaman sawit.”

Sawit memang tanaman asli dari Afrika, khususnya Afrika tengah. Awalnya pun sawit hanya sebagai tanaman hias di jalan-jalan. Tapi kemudian menjadi komoditi ekspor. Banyak orang yang sangat kaya berkat sawit, tapi tak kalah banyak yang menderita karena sawit, khususnya orang-orang setempat.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.