Apakah Anda Bahagia saat Online

Photo by Alycia Fung on Pexels.com

Berapa kali Anda online setiap hari? Mudah menjawabnya. Selalu. Saya memiliki dua hape pintar. Beberapa kali saya memegang keduanya bersamaan. Saat sadar saya merasa sangat bodoh. Saya tentu tidak sendirian. Sering orang kejatuhan hape saat berbaring di tempat tidur. Saya juga pernah. Tapi sekarang jarang sekali ketimpaan hape karena lebih sering meletakkannya saat jelang tidur. Poinnya, saya tetap online.

Banyak hal menjadi mudah berkat internet. Semua orang terbantu saat online dengan aplikasi berbelanja, tranportasi, kencan, hobi, dan banyak lagi. Setiap detik hidup manusia modern terhubung dengan internet. Semua ada internetnya. Istilah kerennya, internet of things (IoT).

Dua puluh tahun lalu, saat masih menjadi jurnalis ingusan, saya harus berebut dengan rekan kerja untuk menyalakan modem agar bisa online. Ketika saya online, rekan lain sudah mengantri. Status online sebuah kemewahan ketika itu. Sekarang sebaliknya. Tidak online selama beberapa menit saja sebuah kemewahan. Internet menempel kemana pun orang pergi.

Pertanyaan besarnya, apakah seseorang bahagia ketika online? Pertanyaan mudah dimengerti tapi susah menjawabnya. Saya tadinya mau menjawab; iya, saya senang ketika online. Tapi baru beberapa menit lalu saya melihat posting Instragam seorang teman. Keren, berkelas, dan like-nya banyak (Oya, Instagram itu adalah produk Like, bukan foto). Saya kok merasa lebih bahagia sebelum melihatnya. Itu mungkin hanya saya.

Kita sepakat bahwa internet mendekatkan yang jauh. Dalamnya tidak selalu begitu. Internet terbukti menurunkan kualitas jarak (hubungan), apakah itu dekat atau jauh, antara dua atau beberapa orang. Contohnya begini. Sebelum ada internet, si A memiliki idola. Dia mendefinsikan sendiri hubungan dengan sang idola. Ia menganggap mereka sangat dekat dan eksklusif. Itu menurutnya, bebas saja. Yang jelas, hubungan dia dan idolanya sangat berkualitas.

Setelah era internet, semua berubah. Si A setiap hari melihat idolanya di IG. Di saat lain idolanya mengomentari postingan atau tweet seseorang dengan akrab. Setelah itu dia memberikan emoji ngakak atas satu komentar. Saat itu jarak si A dengan idola terganggu. Banyak orang seliweran di situ. Kelompok pertemanan si A dan idola menjadi luas.

Si A tak memiliki hasrat yang seperti dulu lagi dengan idolanya. Hasratnya pada hal lain juga mengalami penurunan setelah ada di internet. Apa jadinya jika hasrat akan sesuatu akan mengalami gangguan tak sehat seperti itu? Akhirnya kekuatan hasrat pada sesuatu berangsur hilang. Hasrat adalah dorongan dan motivator penting, meski bukan yang utama.

Online berarti ada kapan saja. Sialnya, di sosial media, online selalu menawarkan sekarung keinginan. Tentu tidak semua keinginan itu bisa terpenuhi. Itulah masalahnya. Salah satu sumber penderitaan hidup adalah terlalu banyak keinginan, tapi hanya sedikit – bahkan kadang-kadang – tak ada yang terwujud. Bagaimana keinginan bisa ditolak jika dia muncul selama 24 jam sehari 7 hari seminggu.

Bayangkan Anda berada di dua kelompok di waktu berbeda. Di kelompok satu, semua anggotanya Anda kenal. Menyapa mereka satu per satu. Saling bertanya dan menjawab. Senyum sana, tawa sini. Di kelompok kedua hanya sebagian yang Anda kenal. Menyapa dan bertanya secukupnya. Mungkin tertawa sebentar. Setelah itu hening.

Kelompok mana yang lebih melelahkan dan menguras enerji? Tentu saja kelompok pertama. Bayangkan jika Anda berada di kelompok pertama selama 24 jam sehari 7 hari seminggu. Begitulah internet. Satu momen menyapa teman di feed, beberapa detik kemudian temen lain membuat story yang menggoda untuk dikomentari. Itu baru di Instagram. Masih ada FB, Twitter, Tik Tok, dan lainnya. Jangan lupakan puluhan aplikasi di hape yang setiap saat minta dibuka. Salah satu penyebab kecemasan dan tekanan hidup ketika tantangan ada dimana-mana secara bersamaan.

Pertanyaan awal tadi sekarang dibalik. Berapa lama Anda tahan tidak online dalam sehari? Eh, tidak perlu sehari. Lima  menit saja.

Hmm, mungkin saya perlu mencari aplikasi untuk mengingatkan agar tidak sering-sering online. Lho?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.