Menikahlah, Uji Kebebasanmu

Ucapan selamat mengalir di satu grup alumni. Anggotanya kebanyakan di atas umur 47, mungkin ada yang sudah 50. Ceritanya, seorang alumnus menikah lagi. Foto bersama pasangan barunya yang di pajang di grup tampak sangat bahagia. Ucapan yang datang silih berganti itu semuanya bernada positif. Tapi ada sedikit rasa penasaran masing-masing anggota, meski mereka tidak memperlihatkan secara terang-terangan.

Photo by Jasmine Carter on Pexels.com

Sejak kapan dia cerai dengan istri pertamanya? Dia ditinggalkan setelah mereka melalui tahun-tahun yang berat.

Tulisan ini tidak ingin menjawab itu.

Menikah (atau tidak) adalah sebuah perdebatan panjang. Sisi positif sebuah pernikahan selalu diiringi sisi negatifnya. Banyak orang yang ingin menikah, tapi tidak kalah banyak menyesali, bahkan menyesal memiliki anak.

Ada wanita jomblo di usia menjelang 40 tahun yang merasa sangat bahagia. Untuk menjalani hidup tidak lagi seperti zaman dulu; harus menikah dan memilik anak. Zaman telah berubah dan alur hidup tidak hanya satu.

Pandangan tentang orang yang menikah juga berubah. Status menikah berada di persimpangan. Apalagi ketika disematkan kata “bahagia”. Apakah saat ini ada pernikahan bahagia?

Banyak yang semakin meyakini menikah berarti tidak bebas. Mungkin teknologi saat ini membuka pintu kebebasan yang sangat lebar salah satu pendorongnya . Anda bebas melakukan apa saja di sosial media. Anda bebas memilih film yang ingin ditonton. Bebas memilih pertandingan bola yang ingin ditonton. Tidak ada lagi yang mengatur Anda harus menonton ini, atau itu. Bahkan Anda kini tidak bisa melarang anak balita Anda menonton.

Kenapa tidak bisa begitu dengan pernikahan?

Tidak peduli seberapa kaya, seberapa tinggi jabatan Anda di kantor. Jika ada orang lain yang bertanya jam berapa Anda pulang dari kantor, atau bagaimana mana sebaiknya Anda berpakaian, berarti Anda bukan orang yang bebas. Anda punya uang, tapi tidak kaya. Kaya di sini identik dengan kebebasan. Ini berlaku juga buat orang yang belum menikah. jika ada yang menyuruh-nyuruh, baik pekerjaan di kantor maupun saat menjalani sebuah hubungan, berarti Anda sudah menikah. Selamat, ya?

Semakin maju teknologi komunikasi justru melahirkan ironi dalam pernikahan. Semakin rumit pula komunikasi dua orang yang menikah. Teknologi sering dipakai sebagai media melarikan diri dari obrolan suatu pernikahan, atau seriusnya sebuah hubungan. Semakin banyak grup-grup sosmed, semakin besar peluang selingkuh, atau terhentinya satu hubungan.

Menjadi manusia sebebas-bebasnya moto baru. Orang yang selfie dengan sepeda mewah, nongkrong di tempat mahal, bertemu dengan orang yang terkenal pada dasarnya ingin memperlihatkan dirinya sebagai orang yang bebas. Uang, luasnya network, dan harta yang banyak, membuka pintu pada banyak pilihan. Orang yang tidak memiliki semua itu tidak punya pilihan. Anda bukan orang bebas.

Photo by Snapwire on Pexels.com

Kembali ke alumnus yang menikah lagi. Mungkin salah satu tujuannya karena dia ingin bebas. Lho? Dia ingin bebas memutuskan untuk bercerai, lalu menikakah lagi. Dia bebas bilang “cukup sampai di sini” pada istrinya, bebas mengajak “mengarungi rumah tangga” dengan calon istrinya. Kebebasan seperti ini mungkin membuatnya tumbuh sebagai manusia, membuatnya terus memutar otak.

Elon Musk melewati babak kawin cerai dan tak memiliki hubungan yang baik dengan anak-anaknya. Kita tahu apa kehebatan Elon dan sumbangsihnya untuk dunia. Banyak pemimpin hebat berasal dari hubungan pernikahan yang tak ideal. Obama jarang sekali bertemu bapaknya. Kita tahu betapa hebatnya Obama berpidato dengan kehidupan sosial, dan keluarga.

Photo by Flora Westbrook on Pexels.com

Sebuah keluarga yang harmonis, keluarga yang nyaman untuk orang tua dan anak-anak, menjadi rumah untuk comfort zone. Orang yang berada di dunia kenyamanan tidak akan berusaha keras meraih sesuatu yang luar biasa, apalagi mengubah dunia. Orang yang berada di zona nyaman tidak akan  tumbuh.

Jangan-jangan itu yang diinginkan sang alumnus. Selamat menikah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.