Ketika Bapak Tidak Menyapa

Bocah laki-laki melihat dari jauh menembus jeruji lapangan tenis. Semakin lama, tanpa disadarinya, semakin mendekat. Tangan-tangan mungilnya memegang jeruji. Matanya tak henti memandangi gerak bola tenis. Sesekali dia mendengar teriakan ketika orang memukul bola dengan raket. Di sana ada dua pasangan yang sedang berlatih, satu orang pelatih yang sangat bersemangat.

Mata bocah itu sesekali mengarah ke si pelatih. Dia tak peduli dengan dua pasangan yang sepertinya orang penting. Bocah itu semakin memperlihatkan dirinya. Dia berharap sang pelatih melambai, atau setidaknya tersenyum. Dipanggil untuk masuk ke lapangan untuk menemaninya melatih sepertinya hanya mimpi. Bocah itu pulang dengan sedih. Sekadar lambaian pun tidak ada.

Bocah itu adalah saya. Pelatih itu adalah bapak saya.

Saya mencoba mengingat kejadian puluhan tahun lalu itu setelah melihat kedekatan Tiger Woods dan anaknya, Charlie, di sebuah turnamen golf khusus untuk keluarga beberapa minggu lalu. Keakraban itu mengusik saya. Andaikan dulu bapak saya mengajak, melatih, dan membimbing saya di lapangan tenis, mungkin saya memiliki keahlian bermain tenis. Mungkin. Saya penyuka hampir semua olahraga. Rasanya tak mudah melupakan kejadian disisihkan dalam sesuatu yang kita senangi.

Konon, rahasia sebuah hubungan (termasuk dalam keluarga, ayah dan anak) yang bahagia adalah hubungan dua orang yang bahagia. Jika salah satunya tidak bahagia, bisa disimpulkan bukan hubungan yang bahagia. Hubungan yang bahagia tidak bisa diukur dari menonton teve bersama.

Banyak orang terjebak dengan alasan karena dia pasangan, anak, orang tua, teman saya. Saya harus bahagia karena dia orang tua saya, karena dia anak saya, karena dia pacar saya, karena dia suami atau istri saya, karena dia teman saya. Saya bahagia karena.. Sepele sebenarnya. Cukup ganti kata “karena” dengan “bersama”. Saya harus bahagia bersama anak, orang tua, pacar, suami atau istri. Tapi seperti biasa, yang sederhana itu justru susah dilakukan.

Bapak saya bisa jadi tidak bahagia jika saya ada lapangan bersamanya. Dia harus menjaga image di depan para bos yang dilatihnya. Saya pun pasti tidak bahagia jika berada di sana karena bapak saya tidak bahagia. Kami tidak pernah tahu karena saya tidak pernah bertanya, hingga dia berpulang hampir sepuluh tahun lalu.

Cara menciptakan sebuah hubungan yang bahagia untuk semua orang masih misteri, masih dicari. Banyak kata-kata indah bagaimana sebuah hubungan bahagia harusnya dibuat. Termasuk tulisan ini sendiri. Tapi saya sepakat, jika ingin membuat hubungan yang bahagia, mulailah dari diri sendiri. Bukan tugas kita membuat pasangan, orang tua, anak, teman kita bahagia. Bahagiakan dulu diri sendiri. Saya percaya kebahagiaan itu menular.

Oya, sempat ada keinginan saya “membayar kesalahan” bapak. Saya mengajak anak perempuan satu-satunya untuk berlatih golf, atau sekadar berolahraga. Awalnya dia mau, tapi sepertinya tidak menikmati. Kedekatan dalam melakukan olah raga ini sepertinya bukan hubungan yang baik. Saya harus mencari cara lain di mana kami berdua bahagia melakukannya. Yang pasti, saya akan melambai atau menyapa ketika anak saya melihat saat saya bermain golf.

Kebahagiaan anak saya tidak bisa saya yang ciptakan. Tapi dengan menyapanya saya merasa bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.