Cerita Gary dan Diego

“Aku nyaris bertepuk tangan ketika dia mencetak gol luar biasa itu ke gawang kami,” ujar Gary Lineker, mengenang gol jenius Diego Maradona saat mengalahkan Inggris di perempat final Piala Dunia 1986. Kisah kekalahan Inggris ini berserakan dimana-mana dan, selalu disertai pro dan kontra. Menurut saya, yang menyaksikan langsung laga itu di tivi, dianalisis seperti apa pun, saat itu Maradona tetap lebih baik dari Inggris.

Gary Lineker dan Diego Maradona, dua sosok yang menjadi sorotan di lapangan hijau di pertengahan dekade 80-an. Banyak kesamaan di antara mereka. Sama-sama lahir di tahun 1960 dari keluarga kelas bawah dan pekerja. Tapi perbedaan mereka jauh lebih banyak. Perbedaan inilah yang bisa menjelaskan kenapa Maradona berhenti di usia 60, sedangkan Lineker berubah menjadi sosok TV personality dengan kondisi fisik tampilan yang bugar.

Bakat dan keberanian – sesekali disertai kebodohan – melesatkan karier Maradona. Dia menjadi bintang muda di usia remaja bahkan ketika emosinya belum stabil. Tapi ada harga yang harus dibayar dengan ketenaran instan; dia menjadi rebel dan tidak stabil. Sebaliknya, Lineker melewati proses karier tahap demi tahap seperti pemain pada umumnya. Dia baru memakai kostum timnas Inggris tujuh tahun setelah Maradona.

Sejarah mencatat ketenaran Maradona melesat meninggalkan Lineker. Setelah Piala Dunia 86, selama satu dekade kemudian, cerita di lapangan hijau diisi berita tentang Maradona. Skill di lapangan, fans yang menggila, narkoba, sex bebas, kekerasan, hingga pesta. Hampir semua ada Maradona di dalamnya. Penonton mengutuk, menangis, memaki, dan memuja dirinya di saat nyaris bersamaan.

Selanjutnya kita melihat bagaimana kehidupan memperlakukan kedua sosok ini. Di tengah ketenarannya, bahkan setelah tidak bermain, Maradona melupakan bahwa dirinya bagian dari kehidupan. Dia tidak merawat tubuhnya yang memang sudah teracuni berbagai zat terlarang. Dia bahkan sudah kelihatan tidak sehat dengan postur bongsornya di awal usia 30-an. Semakin tahun tubuhnya semakin tak bugar, semakin tak seimbang.

Ini efek ketenaran juga. Maradona tak perlu tampil ideal secara fisik untuk menghasilkan uang. Dengan bercerita saja, atau sekadar hadir di satu undangan, uang sudah didapat. Keistimewaan ini tak dimiliki Lineker. Awal 90-an, dia sudah terdepak dari tim nasional Inggris, beberapa tahun kemudian harus bermain di Jepang agar tetap dikenal.

Tubuh yang bugar tidak bisa dibeli. Ia harus diraih, atau didapat. Lineker meraihnya, Maradona tidak. Maradona mungkin tetap berolahraga. Di usia 50 tahun, dia tampak bugar sebagai pelatih Argentina di Piala Dunia 2010. Tapi jika ingin mendapatkan kebugaran secara permanen, lakukan terus-menerus.

Lineker semakin bugar di usia 40, 50, bahkan 60. Dia berani memperlihatkan tubuhnya idealnya saat nyaris telanjang di depan tivi ketika Leicester City, klub profesional pertamanya, menjuara Liga Inggris. Di saat bersamaan, tubuh Maradona semakin membengkak. Berjalan pun  susah. Entah penyakit apa saja yang hingga di tubuhnya. Terakhir, dia harus melakukan operasi otak sebelumnya kematian menjemput.

Kehancuran fisik Maradona bertolak belakang dengan kondisi Lineker. Ketika ditanya saat siaran Liga Champions soal kematian Maradona, Lineker yang masih tampak sangat bugar dengan gesit menunjukkan beberapa aksi Maradona. Dia mengagumi Maradona, tapi di saat bersamaan dia mencontohkan bagaimana seharusnya hidup dijalani.

Anda harus merangkul kehidupan agar ia tidak meninggalkanmu. Lineker berdamai dengan kehidupan, memberi semua yang diinginkannya. Sebaliknya, Maradona melupakan kehidupan, meski kehidupan telah memberi segalanya. Saat dia semakin menjauh dari kehidupan, saat itulah kematian menemuinya.

Lineker berdamai dengan kehidupan, Maradona meninggalkannya. Tapi kita sepakat, di masa hidupnya yang singkat, jutaan orang dibuat gembira oleh Maradona. Tak hanya di Argentina dan Naples (Italia), tapi di seluruh dunia. Mungkin Maradona tidak meninggalkan kehidupan. Tapi dia menyerahkan kehidupannya untuk membahagiakan jutaan orang. Mungkin.

RIP Diego. Il Dio. Just go on with your life, Gary.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.