Suatu Sore di Sisi Danau Toba

Jalan mulus yang hanya cukup dua mobil saat berpapasan itu menggoda pengendara untuk melaju kencang. Kendaraan pribadi lebih tertib dengan kecepatan stabil. Kendaraan angkutan umum, termasuk truk, cenderung ugal-ugalan. Sesekali berhenti mendadak, atau mengambil jalur di tengah sehingga susah dilewati. Beginilah gambaran perjalanan dari Kabanjahe (Kabupaten Karo), lewat Sidikalang (Kab. Dairi), menuju Samosir (Kabupaten Samosir) di pinggiran Danau Toba, Sumatera Utara. Saya yang mengendarai satu mobil sempat membuang ban keluar jalur karena menghindari pengendara lain.

Ini perjalanan keluarga. Banyak perhentian yang tak diduga. Tapi di situlah serunya family trip. Dengan dua kendaraan berisi belasan orang, perjalanan ini memiliki banyak cerita. Lapar, letih, kesal. Semua hilang, setidaknya lepas, ketika tiba di tempat tujuan.

Sudah lewat tengah hari ketika kami tiba di pinggiran Danau Toba. Melewati jalan Lingkar Tuk-tuk, lalu meminggir sedikit. Kami memasuki villa dan bungalow Tuk-tuk Timbul. Lokasi di garis pantai antara semenanjung Tuk Tuk Siadong dengan desa Ambarita. Isitlah Tuk-Tuk berarti semenanjung. Tuk-Tuk Timbul bisa diartikan semenanjung yang meninggi. Dalam arti lebih luas sesuai adat Tapanuli kira-kira semenjang yang luhur, mulia, dan agung. Nama yang bagus.

Keluarga besar saya sebenarnya berasal dari pinggiran Danau Toba. Mungkin saya pernah menginap di sekitar sini waktu kecil. Tapi saya tak ingat betul. Yang saya ingat, pernah bermain-main di sisi lain Danau Toba yang dikenal dengan nama Tongging dan Paropo.

Pemilik villa seorang berdarah Jerman, atau Swiss? atau Austria? Pastinya lupa. Saat ngobrol pertama, saya bertanya dengan bahasa Indonesia. Kalau enggak nyambung saya siapkan bahasa Inggris. Eh, si inang (ibu dalam bahasa Batak) membalas dengan bahasa Batak. Lancar dan fasih. Dia bahkan memperkenlkan dengan menyebut “boru” (marga untuk perempuan). Di tradisi Batak, perkenalan yang beradat adalah saling menyebut marga terlebih dahulu. Dengan begitu, kedekatan langsung tercipta dan kekakuan terhindarkan. Mungkin ada filofosinya untuk perkenalan itu.

Kami menikmati pemandangan sore dan pagi harinya. Cuma semalam singgah di sini. Sore yang teduh. Suasananya tenang. Hanya beberapa langkah sudah berhadapan dengan luasnya Danau Toba. Bukit yang mengelilingi danau terbesar ini tampak dari kejauhan. Beradu dengan sisi gelap bukit, di hamparan air tenang yang mulai redup. Pancarona Danau Toba.

Anak-anak bermain di kolam renang kecil di tepi danau. Ada semacam bak mandi bulat di batas danau. Cukup untuk menampung empat orang dewasa. Mereka berhamburan ke sana. Orang dewasa menikmati pemandangan sambil ngobrol.

Suasana sangat cerah menyambut pagi. Langit yang terang terpantul  ke danau yang membuat bumi nyaris tanpa bayangan. Nelayan memanaskan sampan mereka. Beberapa sudah bergerak ke tengah danau.

Pagi hanya menyapa sebentar. Kami harus melanjutkan perjalanan. Kembali menyusuri jalan sempit. Bedanya, kali ini diawali dengan mengitari Pulau Samosir yang terletak di tengah danau. Lalu melanjutkan perjalanan dengan menyeberangi danau dengan kapal feri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.