Oh, Siklus Hidup Mati

Tertegun. Prawinoto ingat masa kecilnya di kampung, sebuah dataran tinggi di utara Sumatera sana. Teman kecilnya banyak. Saat membaca berita obituari di WAG, dia mengingat-ingat wajah temannya yang meninggal karena sakit itu. Lama baru dia ingat. Itu pun terbantu foto di grup.

Oh, dia. Mereka pernah akrab. Akrab soal apa dan kapan tentu saja lupa.

Setiap kematian orang dekat mengakibatkan penggalan. Ada yang hilang. Semakin dekat hubungan, semakin besar efeknya. Beberapa tahun lalu, di tengah keramaian mal, Prawinoto tersungkur berlutut saat mendengar kabar bapaknya meninggal. Selama beberapa detik tak sanggup berdiri, apalagi melangkah.

Inilah siklus kehidupan dan kematian. Manusia terjebak di dalamnya karena keterbatasan duniawi. Bisakah seseorang terlepas dari siklus ini. Konon bisa. Asal menguasai ilmu pengetahuan alias sains dan memiliki kepercayaan (bukan agama).

Ah, tak baik berlama-lama membicarakan kematian. Yuk kembali ke rutinitas masing-masing. Kembali ke kehidupan dalam siklus hidup hidup mati. Lho?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.