Memburu Pancarona Raja Ampat

Satu gulungan ombak dihantam perahu cepat yang sedang kami naiki. Moncong perahu terangkat, lalu terhempas. Enam penumpang perahu kaget, termasuk saya. Kami saat itu sedang di tengah laut Raja Ampat, Papua Barat. Banyak tempat yang akan kami jelajahi. Mulai tempat  terkena seperti Piaynemo dan Misool hingga desa-desa yang jarang didatangi turis. Tapi itu kapan-kapan saya ceritakan. Kali ini kita hanya menikmati pancarona alam Raja Ampat.

Pemandangan di bukit karst Piaynemo. Melelahkan untuk bisa mencapai titik ini. Anda harus lincah dan memiliki stamina yang prima. Usahakan tidak membawa barang bawaan saat mendaki. Jarak pendakian puluhan meter, tapi agak curam. Waktu saya ke sana, jalurnya masih dalam perbaikan. Ah, lupakan lelah. Mari lihat pemandanganya. Oya, saya sengaja mengedit dengan warna false color agar lebih dramatis. Perahu cepat yang saya maksud seperti perahu di bawah itu.

Langit selalu memberi warna terbaik selama beberapa hari di tanah Papua. Ini contohnya. Memang tidak bersih, tapi saya menyukai langit yang memiliki awan. Pancarona itu.

Sudut lain langit yang sama. Daratan di sana bagian dari Kawasan Konservasi Perairan  Raja Ampat. Kawasan seluas 117 ribu hektar, laut dan daratan, yang  dilindungi. Kekayaannya tak hanya alam, tapi juga satwa yang beberapa jenis hanya ada di Papua.

Air dangkal di pelabuhaan Deer. Warna-warna air di pagi hari. Di ujung sana rumah penduduk. Sangat menyenangkan mengahabiskan pagi di sini. Pemandangan laut yang luas dan ketenangan tanpa batas.

Perahu-perahu warga tertambat di pelabuhan Deer. Hari masih terlalu pagi. Para nelayan mungkin masih bercanda bersama keluarga sebelum menantang laut mencari rezeki. Airnya terlalu jernih. Sayang rasanya merusak keindahan dasar air dengan menginjakkan kaki atau menceburkan badan. Mungkin lain kali, kawan.

Perahu cepat saat menembus laut. Kami hanya berjarak beberapa sentimeter dari teras bergelombang itu. Semakin ke tengah, semakin pekat ke dalamannya. Pemandangan darat pun semakin sedikit.

Berada di perahu cepat di tengah laut Raja Ampat seperti memasukkan camilan klepon ke dalam mulut. Luar biasa rasanya saat perahu menghantam ombak. Gelombang air pun pecah, seperti manisnya gula klepon yang pecah di dalam mulut. Sedap dan segar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.