Bir dan Kalung Salib

Sosok kaukasia itu melangkah masuk ke kantor kami. Tubuh besarnya memenuhi koridor kantor majalah HAI, sebuah majalah remaja yang digemari di zamannya. Lorong yang dibatasi beberapa kubikel itu tiba-tiba tampak mengecil. Harusnya dia hanya berada di ruang rapat yang biasa dipakai untuk wawancara artis atau selebritis. Tapi siapa berani yang menolak ketika dia minta ke toilet yang letaknya di belakang.

“Hi, Yingwie..” Sapaan seorang rekan tak digubrisnya. Tubuh bertinggi 190 senti berjalan angkuh dengan rambut gondrong khas anak metal di zamannya. Jika ada orang yang berpapasan di lorong  harus mengalah, mundur atau nyerong. Bukan takut, tapi tidak muat. Dia berpakaian serba hitam. Seperti jubah. Kalung salib besar bergantung di dada. Berbagai gelang memenuhi lengan kiri dan kanan.

Beberapa menit kemudian, saya sudah berdua dia; Ywingwie Malmsteen di ruang rapat. Ada Daniel Supriyono, fotografer. Tapi dia bebas bergerak. Jepret, jepret, keluar. Nanti masuk lagi. Jepret, jepret lagi.

Bir di tangan kiri, rokok di tangan kanan. Kalau tidak salah bir Bintang.  Tatapannya tenang, tapi berkesan meremehkan.

Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan, dibalas dengan jawaban-jawaban klise. Tak ingat betul apa poin-nya waktu itu. Yang pasti seputar album baru dan kegiatan roadshow yang akan digelar di Jakarta dan Surabaya.

Wawancara berjalan lancar. Menurut saya.  Menurut editor saya belum tentu. Di masa itu, menggali materi untuk wawancara tidak seperti sekarang. Internet ada, tapi tak bisa diandalkan. Rilis media hanya untuk mencek data dan fakta sang musisi.

Sumber terbaik adalah mendengarkan lagu-lagu di album sang musisi.  Saya kenyang, sampai hampir muntah, mengunyah deretan lagu di album Facing the Animal dari Yingwie yang dirilis di tahun itu. Satu singelnya, Like An Angel, nempel di kepala sampai sekarang.

Momen wawancara ini menjadi penting dalam beberapa hal. Saya bukan wartawan musik waktu itu, dan memang tidak dipersiapkan ke sana. Tapi bukan alasan untuk tidak melakukan wawancara musisi internasional. Kedua, sumber informasi yang terbatas justru menjadi pemicu untuk kreatif.

Satu yang saya sesali. Kenapa Yingwie dengan tubuh besarnya yang datang. Kenapa bukan Joey Tempest…? Joey Tempest ini lead dan vokalis band Europe yang ngetop lewat lagu The Final Countdown.

Foto-foto: Daniel Supriyono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.