Nikmatnya Daging Impala di Carnivore

Dingin menusuk tulang. Bahkan di dalam bus sekali pun. Saya menyesal tidak membawa baju hangat yang cukup tebal dari Jakarta. Kini, kurang dari 10 jalam setelah mendarat di Johannesburg, kami sudah berada di jalan tol menuju pinggiran kota, kawasan pedesaan, Muldersdrift. Perjalanan sekitar 30 menit. Suasana di dalam bus senyap. Sepertinya semua menahan dingin. Dan kantuk.

Bus berhenti. Karena hanya sedikit penerangan, papan nama tempat ini tampak samar-samar. Tapi semakin jelas ketika mendekat. Selamat datang di Carnovire. Resto favorit yang menyajikan daging-daging khas Afrika, termasuk daging satwa buruan atau yang dikenal dengan istilah game meats. Menyantap daging sapi atau sejenisnya sudah terlalu mainstream. Bagaimana dengan daging impala, kudu, atau buaya?

Bagian dalam resto cukup luas. Bertingkat. Dilengkapi meja-meja panjang untuk rombongan. Kami memenuhi tempat yang sudah dipesan. Sesaat kemudian para pelayan laki-laki besar berkulit gelap menghampiri. Jangan tertipu dengan warna dan kulit dan posturnya. Mereka sangat ramah.

Seorang pelayan bercelemek garis-garis tiba-tiba muncul dari belakang saya. Dia menyodorkan daging panggang besar berikut besi panggangannya ke tengah meja. Kami kaget. Tapi langsung lapar melihat daging berlapis-lapis. Dia menjelaskan jenis-jenis daging di panggangan. Rusa, zebra, impala, dan buaya. Buaya! Seisi meja kaget, dan ngakak. Saya menunjuk daging impala. Saya lupa teman-teman memilih apa, yang pasti bukan buaya. Beberapa potong daging langsung dipotongnya. Daging impala pesanan saya sudah berada di piring. Pelayan menghampir meja-meja lain dengan tawaran yang sama.

Tak lama, pelayan lain menyodorkan botol minuman. Saya memilih anggur merah. Kapan lagi bisa makan panggangan dengan anggur. Good choice, kata sang pelayan. Dia hanya sebentar di meja kami karena rombongan lebih banyak memilih minuman biasa.

Saya ambil pisau, potong daging. Tusuk dengan garpu, celupkan ke saos. Santap. Hmm, mirip daging rusa atau kambing, tapi sedikit lebih keras. Rasanya seperti daging kebanyakan. Harusnya tadi mencoba zebra, atau buaya. Ah, sudahlah, malas dilihatin orang-orang kalau ada daging panggangan buaya di piring.

Di tengah restoran terdapat dapur besar. Dari jauh kelihatan biasa, tapi panggangan bulatnya ternyata bergrak berputar saat didekati. Beberapa orang mengawasi daging yang berputar. Tak lupa tersenyum ke pengunjung yang melihat.

Carnivore bukan sembarang resto. Ini favorit para turis. Beberapa orang terkenal juga pernah bersantap di sini. Harga per porsi sekitar 500 ribu rupiah. Soal makanan, banyak menu yang aman. Ayam, sapi, dan lainnya. Salahs atu dessert terbaik adalah ice cream.

Kurang tidur, letih, dan hawa yang sangat dingin membuat kami tak bisa menikmati tempat ini secara maksimal. Sebagian besar anggota rombongan pasti sedang memimpikan kasur saat dalam bus menuju hotel.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.