Perjalanan Shasta dan Risa (1)

Anjing kecil itu menggigil di depan pintu rumah. Saya mendapatinya sedang bergelut dengan dingin dan hujan. Sial, pikir saya. Saya lupa memasukkannya ke dalam rumah atau memberinya tempat untuk berteduh saat pergi ke kantor pagi tadi. Saat itu musim hujan, dan bagian depan rumah belum memiliki atap untuk menghalang hujan.

Si anjing masih berumur beberapa bulan. Pemberian seorang teman kantor. Jelas sekali ia belum cukup kuat untuk hidup sendiri, termasuk menghadapi perubahan cuaca. Besoknya saya memanggil dokter hewan. Dokter agak pesimis melihat kondisinya, tapi tetap yakin si guguk akan sembuh.

Besok paginya, ia sudah terbujur kaku. Saya merasa bersalah dan mencoba memberikan penguburan terbaik buat si anjing kecil di depan rumah. Tapi saya tidak kapok. Saya tetap ingin memiliki anjing kecil buat teman anak saya yang masih balita.

Waktu itu tahun 2008. Cari sana, cari sini. Ketemulah satu pet shop di kawasan BSD Serpong. Pas masuk, ada anjing kecil berbulu lebat anteng di dalam kandang di depan toko. Dari matanya seperti minta diajak pergi. “Ya, dijual. Ada yang nitip,” kata pemilik toko.

Tawar menawar. Anjing itu pun berpindah tangan. Si penjaga sempat bilang ini anjing jenis shih tzu. Merawatnya gampang-gampang susah. Yang repot bulunya sangat lebat dan cepat tumbuh setelah dipotong. Kalau malas merawat, bulunya akan menempel dan menjadi gimbal.

Anak saya memberinya nama Shasta. Diambil dari salah satu nama anjing di film anjing, lupa judulnya. Kami merawatnya sepeti anjing biasa. Di depan rumah ada bekas taman kecil yang kami ubah jadi kandang Shasta. Nyaman, kering, dan cukup luas untuk seekor anjing kecil.

Shasta anjing dewasa. Kalau ukuran manusia mungkin di umur 20-an hingga awal 30-an. Menurut cerita pemilik toko, ia sudah tidak inginkan oleh pemiliknya. Sengaja dititipjual, asal tidak ada rumah.

Shasta sepertinya mengalami dan melewati banyak hal yang tak menyenangkan dalam hidupnya. Bahasa tubuhnya masih takut dan ragu ketika kami bawa pulang. Ia tidak yakin kami akan lebih baik dibanding tuan sebelumnya.

Beberapa kali saya coba cari info tentang shih tzu. Anjing jenis ini dikenal selalu bersemangat dan senang untuk bermain-main. Itu menjadi salah satu cara saya mengetahui Shasta sehat atau tidak.

Suatu kali saya mendapatinya lemas dan banyak diam. Besoknya masih begitu. Saya mencoba mengamati lebih dekat. Ternyata bagian dalam bulunya yang lebat dipenuhi kutu. Segera saya meneteskan obat kutu terbaik. Beberapa hari kemudian ia bersemangat lagi.

Ini sekilas perkenalan dengan dua anjing jenis shih tzu. Shasta dan Risa Di lain waktu saya cerita lagi soal Shasta  dan penuerusnya, Risa. Sayang, saya tidak memiliki foto anjing kecil yang hanya beberapa hari singgah di rumah kami.  Little pow wow…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.