Cincin dan sebuah Cerita

on

“Selamat pagi, Bung,” suara berwibawa agak berlogat Jawa mengagetkan saya dari belakang. Saya berbalik badan, dan membeku setelah melihat si pemilik suara. Jakob Oetama. Salah seorang pendiri perusahaan media Kompas Gramedia (KG).

Saya tak tahu mau berbuat apa. Sosok itu melangkah mendekat. Tenang. Menyodorkan tangannya. Kami bersalaman. Bos saya tergopoh-gopoh keluar dari ruangannya menyambut sang pemilik perusahaan. Dia juga tidak menyangka orang yang ditunggu-tunggu sudah berada di dalam kantor.

Hari itu Pak JO, begitu kami menyebutnya, menghadiri sebuah acara di gedung KG di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta. Sehari-harinya dia berkantor di kantor pusat di Palmerah Selatan. Kedatangan bos besar ini sudah dijadwalkan, tapi yang tak terduga dia nyelonong dari pintu belakang. Waktu itu kurang dari pukul 9 pagi. Biasanya kantor baru bergeliat menjelang santap siang. Saya belum seminggu bekerja, jadi bisa dimengerti kenapa jam segitu sudah ada di kantor.

Kejadian itu 20 tahun lalu. Saya jadi teringat lagi karena beberapa hari lalu mendapat penghargaan masa kerja; sebuah cincin. Nama resminya penghargaan Satya Kalpika. Diberikan kepada karyawan yang sudah bekerja selama 20 tahun atau lebih. Perjalanan bekerja yang panjang buat saya, tapi mungkin buat beberapa orang bisa lebih panjang lagi. Itulah sebabnya saya setuju untuk menyudahinya.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Sapaan pagi itu adalah perwujudan sebuah karakter. Setidaknya buat saya. Karakter yang mengarah pada integritas dan loyalitas. JO bisa saja masuk lewat pintu depan dan disambut para pimpinan unit dengan riang gembira. Sesuatu yang pasti sudah sangat sering dialaminya. Dia memilih lewat belakang karena begitulah karakternya.

Kini karakter dan integritas itu perlahan sudah mulai tergerus. Bukan hanya di perusahaan ini, tapi juga di perusahaan-perusahaan lain. Perusahaan diisi orang-orang tak berkarakter. Puja-pujilah bosmu, maka kau akan selamat. Adukan teman sejawatmu, maka kau akan aman. Perusahaan-perusahaan pun menjadi sekumpulan tikus yang akan kabur pontang-panting begitu dihadapkan pada tantangan.

Photo by Fallon Michael on Pexels.com

Cincin yang sedianya berhubungan dengan dengan loyalitas, kepercayaan, dan cinta, kini hanya sebatas benda berharga. Di era disruptive seperti saat ini, memang, loyalitas dan kepercayaan sudah berubah. Moral dan etika dirusak zaman. Dan, para bos pun tak mau lagi nongol lewat belakang. Tidak seru buat selfie, atau wefie.

Photo by Fernando Arcos on Pexels.com

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.