Pilih Taktik, Lupakan Dulu Strategi

on

Di grup sosmed, bekas teman kantor saya mem-posting foto laptopnya dengan latar belakang orang sedang makan. Dia menulis caption, ”Semangat kerja.” Teman lain menimpali, “Belum ngantor, lo?” Bekerja di kantor atau dari rumah memang menjadi hal lumrah di saat pandemi.

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

“Belum, hanya 30-50 karyawan yang masuk kantor,” katanya. Itu artinya, hanya 10-15 orang yang bisa masuk kantor.

Berbagai masalah muncul saat pandemi. Semua orang terkena dampak, semua orang memberi dampak. Individu, keluarga, komunitas, perusahaan, hingga institusi negara mengira-ngira apa yang akan terjadi? Bagaimana harus bertindak?

Saat pandemi, individu bisa berbuat salah, dan cukup diberi peringatan. Keluarg-keluarga bisa membatalkan berbagai rencana liburan, masih bisa dilakukan tahun depan. Kelompok komunitas tak bisa berkumpul, tapi hanya. Negara bisa membuat kebijakan publik yang salah? Sudah biasa. Oposisi pun sudah menyiapkan peluru untuk menembak.

Bagaimana dengan perusahaan? Harus bertindak. Pilih taktik, lupakan dulu strategi.

Dua tahun lalu, waktu saya memegang proyek majalah internal salah satu bank nasional, saya berbincang tentang suatu masalah dengan klien. Masalah bersumber dari klien. Saya khawatir ini akan mempengaruhi projek, setidaknya untuk retensi atau kelanjutan kerjasama. Di ujung perdebatan, klien sempat berucap pelan, “Tahun depan kitas masih bareng lagi,” katanya.

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Klien bisa seyakin itu karena kondisi normal. Bagaimana dengannew normal ini? Bisikan mungkin ada, tapi mungkin isinya beda.

Saat di tengah ketidakpastian, klien akan lebih berpikir taktis. Menjadi tactician. Seorang tactician berpikir dan bertindak hanya pada hal-hal spesifik, terutama yang ada di depan mata.

Berpikir taktis adalah bagaimana memenangkan pertarungan hari ini. Memenangkan pertarungan akibat dampak dari virus. Pertarungan besok atau tahun depan urusan nanti. Berpikir taktis mungkin bisa mengakibatkan kekalahan peperangan, tapi setidaknya berhasil memenangkan sebuah pertarungan.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Jika diterapkan, taktik itu harus memiliki perspektif jangka pendek. Ya saat ini, hari ini, minggu ini, bulan ini. Soal kondisi tahun depan atau dua tahun lagi seperti apa, lupakan dulu.

Di marketing, khususnya digital content marketing, penerapan taktik harus fokus pada project yang sedang berjalan. Bagaimana content supply untuk hari ini? Apakah sudah terdeliver dengan baik. Apakah sudah sesuai dengan yang diinginkan. Bahkan bisa lebih detail lagi, apakah hashtag sudah benar untuk posting di sosial media.

Photo by Ashutosh Sonwani on Pexels.com

Akhirnya, kondisi yang tidak biasa membuat pelaku dan agensi content marketing juga bertindak tidak biasa. Tidak bisa lagi melakukan semuanya sesuka hati. Mungkin dulu, sebelum ada pandemi, cara itu bisa “berhasil”. Tapi melakukannya di saat ini menunjukkan bahwa tidak perspektif yang jelas.

Fokus pada taktik. Segera.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.