Liburan di Green House

Saya memelankan laju kendaraan menjelang pertigaan menuju Ciumbuleuit dari arah Setiabudi. Buat orang Bandung, atau yang pernah tinggal di sana, pertigaan ini sangat terkenal. Pertigaan yang mempertemukan jalan Setiabudi, Ciumbuleuit, dan Siliwangi. Mahasiswa, turis, dan tentu saja urang Bandung apal pisan dengan pertigaan ini.

Klakson dari mobil di belakang memaksa saya menekan gas lebih dalam. Biasanya saya mengambil jalur kanan ke arah Dago. Di sana saya menghabiskan banyak waktu di masa kuliah dulu. Tapi kali ini saya melaju lurus ke arah Ciumbuleuit. GPS mengarahkan mobil menelusuri kawasan yang dikenal kampus Unpar tersebut.

Sekitar 20 menit mengikuti jalan menanjak dan sedikit meliuk-liuk, saya terus melaju. Sial, titiknya sudah terlewat. Putar balik, pelan-pelan, berbelok ke arah kanan. Dari petigaan tadi berarti sebelah kiri. Waktu menjelang pukul tujuh malam. Gerimis.

Gerbang masuknya memang kecil. Pencahyaannya juga tak bagus. Kalau tidak awas seperti saya tadi, kemungkinan besar terlewat. Mobil terus melaju di kegelapan di jalan Panumbang Jaya. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan bangunan yang besar, tapi kecil untuk ukuran sebuah hotel. Tempat parkirnya sangat terbatas.

Selamat datang di The House Tour Hotel. Hotel kekinian, atau lebih tepatnya hotel yang istragrammable. Saya tak tahu dulu ini bangunan apa, tapi sepertinya memang bukan dibangun untuk hotel. Tapi itu tak penting buat para anak muda. Buat mereka, yang jauh lebih penting, setiap sudut bangunan buat dipakai buat foto-foto. 

Saya menyukai bangunan green house-nya yang terletak di bagian depan dan bersisian dengan parkiran. Setiap tamu yang masuk melewati green house. Luasnya mungkin 6 x 4 meter. Lebih kurang. Dibungkus kaca-kaca tebal dan dipenuhi tanaman. Berbagai jenis tanaman, kebanyakn tanaman daun, berdampingan dengan sofa besar, meja, kursi kayu, dan lantai yang kering. 

Kaca-kaca yang berembun, ruangan dingin berkat AC, sofa yang hangat, dan ditemani suara rintik hujan. Bandung, hujan gerimis, green house. Ada yang lebih romantis? 

Green house bisa diisi tiga kelompok orang. Biasanya ramai saat sarapan pagi. Terutama oleh mereka yang suka berfoto. 

Dua hari kemudian, ketika melaju kencang di jalan tol Bandung Jakarta, saya masih terkesan dengan hotel tempat kami menginap. Hotel itu semakin memantapkan saya untuk punya green house sendiri. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.