Ketakukan. Emosi Paling Tinggi

“Aku tak bisa bernafas, tolong,” suaranya terengah-engah. Dia menahan sakit luar biasa di leher. “Mama,” katanya lagi. Petugas yang menekan lehernya tak peduli. “Kamu bisa ngomong lancar, kok,” semprot si petugas tanpa melihat. Selama hampir tiga menit lehernya berada di antara lutut petugas dengan aspal. Sang petugas lalu mengangkat lututnya. Korbannya sudah tak berdaya. Tapi baru 8 menit kemudian dia dibawa ke ambulans.

Photo by Pixabay on Pexels.com

George Floyd pingsan, lalu meninggal di tahanan polisi. Beberapa hari kemudian, pecah kerusuhan di berbagai kota di Amerika. Floyd berkulit hitam, sedang petugas polisi yang menekan kepalanya dengan lutut berkulit putih.

Perseteruan kulit hitam dan putih bukan lagu baru. Sering terjadi. Dalam skala kecil sampai nasional. Hanya saja kali ini eskalasinya tinggi karena pihak berwenang yang harusnya netral malah berpihak. Mulai dari pejabat daerah hingga presiden Amerika Serikat.

Saya tak sedang bicara politik. Politik ya begitu. Tapi saya melihat dari sisi ketakutan manusia. Bagi manusia, ketakutan adalah emosi paling tinggi dari semua emosi. Tidak ada yang lebih tinggi.

Photo by Kat Jayne on Pexels.com

Amerika Serikat negara imigran. Imigran kulit putih datang, berkelahi dengan penduduk pribumi, lalu perang antar-mereka sendiri. Berdirilah Amerika. Ratusan tahun kemudian jumlah penduduk kulit putih terus dikejar imigran kulit hitam, hispanik, dan Asia. Non kulit putih diperkirakan akan menjadi mayoritas penduduk Amerika Serkat dalam beberapa dekade lagi.

Ketakutan kulit putih mulai muncul ketika Barrack Obama menjadi presiden. Sosok flamboyan setengah berkulit hitam yang bapaknya dari negara muslim, Kenya. Tugas Obama selesai. Tapi ketakutan kulit putih dan kelompok konservatif yang menjadi backbone Partai Republik kembali muncul ketika Partai Demokrat mencalonkan Hillary Clinton sebagai presiden.

Are you freaking kiddin’ me. Setelah presiden berkulit hitam, kini presiden perempuan?  Struktur sosial white supremacy diambang kehancuran. Begitu marahnya konservatif. Selanjutnya kita tahu. Donald Trump jadi presiden.

Terlepas dari konspirasi teori Fahrenheit 9/11-nya Michael Moore, atau permainan algoritma Cambrigde Analytic, Trump memang sebuah jawaban atas ketakutan kulit putih Amerika yang saat ini masih mayoritas. Seperti hanya Obama ketika itu menjadi harapan dan impian kaum non kulit putih.

Photo by Two Dreamers on Pexels.com

Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal ketakutan kulit putih. Saat ini terjadi penjarahan tanah-tanah dan kadang disertai pembunuhan kaum kulit putih di Afrika Selatan. Kulit putih sudah turun-turun di Afsel sana. Ketakutan ini sedang mengintip warga kulit putih.

Sepertinya perseteruan putih dan non putih di The Lanf of the Free sana masih panjang. Masih ada Floyd yang lain. Lehernya terjepit di aspal (bisa diartikan sebagai sebuah tanah atau negara) dan lutut polisi kulit putih (bisa diartikan sebagai penguasa dan mayoritas)

#BlackLivesMatter

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.