Dari Journalist ke Specialist

Bergelut dengan content di paid media selama puluhan tahun, tapi saya tetap kelabakan ketika mengurusi content marketing di own media.

Saya dan tim memasuki parkiran gedung BRI di kawasan Sudirman, Jakarta. Waktu sekitar  siang jelang sore. September 2017. Agendanya bertemu orang BRI yang akan jadi PIC proyek pertama saya. Ceritanya, saya geser posisi dari jurnalis menjadi spesialis content marketing.

Saya dua puluh tahun menjadi jurnalis unit Majalah di Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Kini dicoba sebagai project manager di Grid Story Factory (GFS) yang juga di bawah KKG (bekerja di lingkungan KKG akan saya ceritakan, kapan-kapan)

Danial. Nama PIC BRI itu. Anak muda, millenial. Meeting yang serius. Dia sendirian, sementara kantor saya full team. Salam sana salam sini, kenalan, lalu lanjut menetapkan SOP dan ini itu-nya. Proyek pun siap jalan.

BRIta Kita majalah internal BRI di bawah PR perusahaan, Corporate Secretary. Targetnya karyawan dan direksi, isinya juga sebagian besar tentang mereka dan bisnis perbankan. Saya pikir, pengalaman puluhan tahun di media cetak (paid media) akan memudahkan saya  memegang majalah internal (own media).

Setelah melalui proses produksi, banyak perbedaan dan sedikit persamaan antara media internal dan media massa. Perbedaan itu yang paling utama adalah soal approval klien. Di paid media tidak ada approval. Kami yang bikin, kami yang melakukan approve.  Di own media, yang memberikan approve bisa berlapis-lapis. Mulai dari bos, bawahannya bos, bos kecil, sok bos, sampai ke PIC. Tapi itu memang SOP. Mereka yang punya, mereka yang approve.

BRIta Kita idealnya terbit bulanan. Tapi pada prakteknya, sebulan bisa dua kali terbit karena proses approval yang tidak lancar. Saya dua minggu sekali merapat ke Gedung BRI 1. Mengevaluasi majalah yang sudah terbit dan merencanakan edisi berikutnya. Begitu seterusnya selama 12 edisi atau satu tahun.

Shit happened? Tentu saja. Baik yang sudah diperhitungkan, maupun yang di luar dugaan. Hampir setiap edisi ada masalah dan salah. Mulai dari yang minor seperti typo atau masalah taste klien hingga yang fatal salah data.

Saya survive. Proyek ini selesai sesuai target (Oktober 2017 hingga September 2018). Tahun pertama sebagai orang agensi, saya banyak mendapat pengalaman. Kini (2020) BRIta Kita masih di bawah GSF. Tapi hanya dalam format digital. Ketika saya pegang dulu, selain print juga ada format digital dalam bentuk aplikasi.

Di tulisan lain nanti saya bercerita lebih detil tentang proyek ini. Mungkin beserta beberapa tip dan masukan cara meng-handle klien dan pihak lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.