Haus dan Lapar di Kaki Salib

Perjalanan ke Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur, mengahantar kami ke Bukit Salib. Pemandangan indah luar biasa saat matahari terbit.

Saya melangkah ke luar villa, berharap sudah ada yang menunggu. Sepi. Angin langsung membelai dari segala arah. Hampir pukul tiga subuh. Saya melangkah lagi, hampir bersamaan dengan suara pintu dibuka dari villa di sebelah. Indy. Teman seperjalanan. Sebelum kami sempat ngobrol, pintu villa lain terbuka. Babel. Teman seperjalan lainnya. Sedikit berbicara, kami bergerak ke arah minibus yang akan menembus subuh yang pekat dan dingin.

Sore tadi kami berjanji hunting tempat wisata. Belum tahu namanya. Pokoknya bagus untuk melihat matahari terbit dari laut, begitu kata Babel. Dia yang merkomendasikan tempat ini. Tanjung Kajuwulu namanya. Sebuah tanjung yang berbukit-bukit dan di salah satu bukit yang paling tinggi dibangun tugu salib. Sejak itu tempat ini juga dikenal sebagai Bukit Salib.

Saya sempat ragu. Apakah ini keputusan tepat? Tidur tekor, capek. Bagaimana kalau tempatnya tidak bagus? Sempat membayangkan asyiknya melanjutkan tidur. Tapi janji adalah janji. Ayo, berangkat.

Babel sudah menyiapkan transportasi dengan baik. Dia mungkin mengakali sopir sewaan kami bahwa perjalanan ini bagian dari perjanjian. Entahlah. Yang pasti, kini kami berada di dalam mobil mini bus. Hanya si supir yang tahu arah. Di sisi kiri kanan karena tidak ada penerangan sama sekali. Terasa bergerak, tapi seakan-akan tidak berpindah tempat. Sepuluh menit lalu sama gelapnya dengan sepuluh menit kemudian.

Langit sangat bersih. Konon, semakin ke bagian timur Indonesia, semakin bersih langitnya. Banyak foto-foto langit yang indah di Indonesia bagian timur. Itu salah satu tujuan saya. Memotret langit Indonesia timur. Beruntung kalau berhasil memotret bintang dengan teknik startrail.

Kami tidak banyak bercakap selama perjalanan. Sepertinya setiap orang menahan kantuk Gerak minibus mulai perlahan. Berhenti. Lampu kendaraan ikut dipadamkan. Gelap gulita. Sang sopir yang orang setempat menunjuk ke satu arah. Dari sana naiknya, kira-kira begitu katanya.

Saya turun duluan. Seperti seorang jagoan. Ransel yang berat berisi kamera menempel di punggung. Langsung melompat ke anak tangga. Indy dan Babel bergerak santai di belakang. Belum belasan langkah, saya sudah kedodoran. Salah besar. Sambil mengatur napas, ngos-ngosan, Indy dan Babel sudah berada di depan. Karena gelap saya tidak melihat wajah meledek mereka, tapi cekikikannya terasa lebih menyakitkan.

Tiga ratus anak tangga harus didaki untuk sampai ke atas. Setelah beberapa kali menghela napas panjang dan mengehentikan langkah, kami tiba di anak tangga terakhir. Saya sampai paling belakangan sampai.

Kami tidak tahu tempat seperti apa ini. Kami melihat  salib besar. Salib yang memberi nama baru sang bukit. Pembangunan salib diresmikan 1999. Dibangun oleh anggota Komando Distrik Militer (Kodim) 1603 Sikka. Posisi salib di atas bukit paling tinggi dari deretan bukit dengan kemiringan 45 derajat. Tinggi salib 2,5 meter, lebarnya lebih kurang setengah meter. Kami sadar ternyata sedang berada di tempat seperti sebuah altar bundar raksasa. Posisi salib di tengah.

Saya kemudian menyiapkan kamera untuk memotret langit. Ngos-ngosan seketika berganti jadi deg-degan. Lho? Lha, saya belum pernah motret bintang. Setting-an pun baru di-screen shot dari hape sebelum berangkat. Kalau gagal, apa kata dua teman ini? Mereka mengira saya bisa motret, kan? Bermodal tripod yang agak goyang, dan kamera entry level, mari kita coba. Hasilnya? Lumayan. Tidak tajam, tapi okelah. Mungkin itu namanya beginner’s luck.

Sambil menunggu shutter berbunyi klik di-setting-an slow speed, kami mengira-ngira arah dan lokasi munculnya bintang tua dan bintang timur. Menurut info, lagi-lagi dari Babel, malam jelang pagi ini akan terjadi konstelasi bintang. Benar saja. Meski tampak kecil, kami bisa melihat bintang timur alias venus di bawah bintang tua.

Tidak banyak yang bisa dilakukan di atas bukit di saat gelap. Saya sibuk memotret. Indy dan Babel mengawasi. Sesekali saya meminta mereka menjadi model untuk latar foto. Mereka berdiri di bawah salib.

Kantuk belum hilang, kini ditambah lapar dan haus. Semakin runyam karena tidak ada yang membawa makan kecil atau minuman. Hanya ada sopi. Ya, sopi, minuman keras khas Maluku dan wilayah Indonesia Timur lainnya, termasuk Flores. Sopi ini sisa dari makan malam. Sopi dalam botol kemasan plastik itu pun sepertinya tak sengaja dibawa. Kata wikipedia, sopi berasal dari bahasa Belanda soopje yang berarti alkohol cair. Sopi sering hadir di pesta-pesta

Kantuk, letih, haus, lapar. Lengkap sudah. Seperti penderitaan Yesus di kayu salib? Tentu saja tidak. Tapi kami memang benar-benar berada di bawah salib, kan?

Tapi semua itu terbayar ketika Matahari muncul perlahan dari ujung laut. Cahayanya menyiram kanvas hitam laut yang gelap. Perlahan semakin terang, semakin panas.

Saat itu kami sadar memiliki pemandangan yang sangat luas. Nyaris dikelilingi Laut Flores. Dari bahu ke bahu. Inilah kelebihan sebuah tanjung. Seperti berada di haluan sebuah kapal pesiar.

Pulau Flores adalah pulau besar terakhir di gugus rantai pulau-pulau dari Jawa. Bentuknya memanjang dan menyempit dengan luas lebih kurang 14.000 km per segi. Pulau yang memiliki banyak ceruk dan teluk kecil. Nama Flores diambil dari bahasa Portugis untuk menunjukkan pulau di kawasan timur.

Laut yang luas, bukit yang dipenuhi rumput liar yang tinggi dan berwarna kuning, pantai-pantai yang indah. Semua bisa dilihat dari Bukit Salib. Kami mengikuti jalan setapak yang tak berujung. Tapi tidak berani bergerak jauh karena letih dan lapar.

Kami bertiga puas di akhir perjalanan tak terduga ini. Misi saya pribadi akhirnya tercapai. Memotret startrail. Hasilnya, buat beberapa fotografer tentu biasa saja tapi buat saya luar biasa.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.